Tag: ilmiah

Makna Syahadat Dalam Tinjauan Ilmiah

Makna Syahadat Dalam Tinjauan Ilmiah

Abul A’la Al-Maududi seorang ulama Pakistan pernah mesinyalir mengenai keruntuhan umat Islam di dunia. Beliau mengatakan bahwa faktor yang paling dominan yang menjadi sebab mundur dan runtuhnya peradaban Islam adalah ketidakmampuan umat Islam dalam memahami bahasa arab.[1]

Bila ditilik secara logis, hal tersebut nampaknya tidak mungkin. Bagaimana bisa orang timur tengah yang memiliki bahasa arab, tidak bisa memahami istilah yang menggunakan bahasa arab? Hal ini bisa terjadi dan sangat mungkin terjadi, kita pun dapat melihat kenyataan pada masyarakat di Indonesia.

Meskipun mereka orang Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi tidak semua orang Indonesia memahami seluruh perbendaharaan kata Indonesia dan tahu cara penggunaannya dengan benar. Ambil contoh kata ABSEN, ACUH, BERGEMING, SERONOK, SENONOH.[2]

Dengan kata lain, pemahaman kata ILAH, yang menjadi isi ikrar bagi seseorang untuk menjadi seorang muslim, memiliki andil dalam membangun peradaban Islam. Kekeliruan dalam memahami makna syahadat dapat mengakibatkan kemunduran dan kehancurkan umat Islam.

Pengertian Makna Syahadat Secara Umum

Sebagaimana telah diketahui bahwa kalimat syahadat ialah:

syahadat

Kalimat pertama di atas dapat dimaknai sebagai dua pemaknaan:

  1. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dengan notasi matematika dituliskan sebagai Allah ∈ Tuhan.
  2. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dengan notasi matematika dituliskan sebagai Allah = Tuhan.

Yang menarik, bila kita mengambil pemaknaan (1), ternyata kita temukan bahwa masyarakat jahiliyah Quraisy ternyata sudah bersyahadat. Dalil-dalilnya salah satunya terdapat pada QS. Az-Zumar: 38, QS. Yunus: 31. Lantas apakah pemaknaan seperti itu dipandang benar? Tentu tidak.

Dari dalil di atas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. dapat diketahui bahwa orang-orang yang tidak beriman semuanya mengakui bahwa “tidak ada yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan manusia dan rezekinya melainkan Allah.”
  2. Dari pernyataan tersebut dapat dimengerti bahwa orang-orang yang mengucapkan persaksian syahadat dengan pengertian Tidak ada Tuhan selain Allah, namun tidak mengakui Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, pada hakikatnya mereka belum bisa dikatakan sebagai muslim, akan tetapi mereka dapat dikatakan sebagai orang musyrik atau orang kafir. (lihat referensi [1] hal 126)
  3. Persaksian dengan pemaknaan seperti di atas merupakan “syahadat”-nya orang-orang jahiliyah, mereka meyakini eksistensi, ketunggalan, dan kekuasaan Allah, namun aturan-Nya ditolak secara demonstratif.

Ayat-ayat tersebut dapat dijadikan sebagai introspeksi atau pengertian syahadat kita masing-masing. Apabila pengertiannya sampai sebatas pengakuan dan persaksian tentang keberadaan Allah saja, maka sesungguhnya syahadat kita tak ubahnya dengan syahadat orang jahiliyah. Setelah mengetahui pemaknaan syahadat yang salah, kita seharusnya berusaha mencari dan memahami pengertian kalimat syahadat.

 

[1]          Iskandar Al-Warisy, dkk. Pemikiran Islam Ilmiah: Menjawab Tantangan Zaman. Surabaya. 2009.

[2]          https://albadrln.wordpress.com/2012/09/20/kata-yang-sering-dipakai-berkebalikan-180-derajat-dengan-artinya/