Tag: berpikir

Jalan Menuju Keimanan Yang Kuat: Sebuah Pendekatan Rasional (2/2)

Jalan Menuju Keimanan Yang Kuat: Sebuah Pendekatan Rasional (2/2)

ayat1

Berpikir adalah aktivitas utama manusia. Allah mewajibkan umat muslim agar senantiasa berpikir untuk mencapai keimanan yang sempurna. Ajakan untuk memperhatikan alam semesta dengan seksama, dalam rangka mencari sunatullah serta untuk memperoleh petunjuk agar beriman terhadap Penciptanya telah disebut ratusan kali oleh Al-Qur’an dalam berbagai surat yang berbeda.

Semua hal tersebut ditujukan agar manusia berpikir dan merenung, memastikan bahwa apa yang ia yakini bukanlah hal-hal yang meragukan. Kita diperingatkan agar tidak mengambil jalan yang ditempuh nenek moyang, tanpa meneliti dan menguji kembali sejauh mana kebenarannya. Inilah iman yang diserukan oleh Islam.

Allah SWT berfirman ketika menjelaskan keadaan kaum musyrikin mekkah:

‎ إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

(yang artinya) “…sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaaan sesat” (Ash-Shaaf-fat: 69)

Kemudian Allah berfirman:

‎فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُون

(yang artinya) “…Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu” (Ash-Shååf-fat: 70)

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullåh menafsirkan dua ayat diatas:

(adapun) firman Allåh subhanahu wa ta’ala:

‎إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

(yang artinya) “…sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaaan sesat” [Ash-Shååf-fat: 69]

Ditafsirkan Ibnu Katsir:

Yaitu sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada mereka seperti itu (yakni neraka Jahim seperti dijelaskan pada ayat sebelumnya) sebab mereka telah mendapatkan ayah-ayah mereka dalam kesesatan kemudian mereka MENGIKUTINYA dengan TAQLID (buta), TANPA DALIL dan (TANPA) keterangan yang kuat.

Meski manusia diwajibkan berpikir untuk mencapai keimanan kepada Allah SWT, namun manusia tidak mungkin menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab akal manusia terbatas. Manusia tidak akan mungkin mampu memahami hakikat Allah SWT dan Zat-Nya. Sehingga keterbatasan tersebut justru menjadi faktor penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan dan kebimbangan.

[1] Taqiyuddin An-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, 2001.

[2] https://abuzuhriy.wordpress.com/2012/01/01/tergesa-gesa-mengikuti-jejak-nenek-moyang-tafsir-qs-69-70/