Jalan Menuju Keimanan Yang Kuat: Sebuah Pendekatan Rasional (1/2)

Jalan Menuju Keimanan Yang Kuat: Sebuah Pendekatan Rasional (1/2)

Sebagai seorang muslim, iman adalah hal pertama yang mesti dipelajari. Rukun Islam pertama adalah syahadat yang berisi ikrar kita untuk mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya illah kita, dan nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Karena pentingnya iman ini, banyak ulama menekankan iman sebelum belajar materi lain, bahkan permasalahan iman ini dibuatkan bab khusus yang kita kenal sebagai bab aqidah.

Menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, iman bukan semata-mata pernyataan lidah seseorang, bukan pula semata-mata pelaksanaan seseorang terhadap amal-amal yang dilakukan orang-orang beriman, bukan pula semata-mata pengetahuan terhadap hakikat-hakikat keimanan, namun iman pada hakikatnya adalah kerja jiwa. Iman harus memiliki daya tangkap pikiran, yang mesti sampai ke tingkat kemantapan yang meyakinkan dan tidak bisa lagi diombang-ambingkan oleh keraguan ataupun syubhat.[1]

Sehingga makna penting yang harus diambil adalah keimanan harus merupakan sesuatu yang kuat. Dan sesuatu yang kuat tidak bisa diperoleh selain dengan jalan berpikir, atau menggunakan istilah Al-Qaradhawi, memiliki daya tangkap pikiran.

Bagaimana manusia berpikir?

Agar dapat berpikir, manusia perlu empat komponen, yaitu 1) Fakta yang terindera; 2) Alat indera; 3) Otak yang sehat; 4) Informasi sebelumya.

Poin 1, 2, 3 setidaknya sudah dapat dipahami dengan mudah. Poin 4 harus ada karena manusia merupakan hasil akumulasi dari pengalaman-pengalamannya sejak ia lahir. Jika ia mendapatkan informasi yang salah, maka hasil pemrosesan informasi tersebut juga akan salah. Proses memaknai informasi inilah yang disebut sebagai persepsi.

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain.[2]

Karena persepsi inilah yang akan diproses oleh otak manusia, disimpan, dan akan di recall kembali, maka persepsi-lah yang akan menjadi dasar manusia untuk memproses informasi berikutnya; maksudnya adalah Informasi yang datang akan dimaknai oleh otak berdasarkan informasi yang disimpan di memori (yang nantinya akan menjadi dasar untuk memaknai informasi lainnya). Hal ini akan terus berlangsung sehingga kumpulan-kumpulan persepsi tadi akan menjadi pemahaman kita. Pemahaman inilah yang akan mendorong kita dalam bertindak, yang akan menjadi standar kita untuk menilai sesuatu.

Pemahaman ini bisa jadi benar atau salah, tergantung darimana ia memperoleh informasi tersebut. Misalnya, jika kita hanya memahami bahwa alkohol dapat menghangatkan tubuh, maka kita akan berpendapat bahwa alkohol boleh diminum karena bermanfaat. Namun jika kita telaah lagi, ternyata alkohol mempunyai dampak yang amat buruk bagi tubuh sehingga kita menolaknya. Nah, apakah manusia dapat mengetahui segala yang baik dan buruk? Tentu tidak. Sehingga hingga titik ini, kita membutuhkan sumber pemahaman yang benar akan segala sesuatu, sehingga kita tidak salah dalam bertindak-tanduk. Pemahaman yang benar itu tidak lain berasal dari Islam saja.

[1]        http://musyafa.com/pengertian-dan-makna-iman-yusuf-qaradhawi/

[2] http://www.ilmupsikologi.com/2015/09/pengertian-persepsi-faktor-dan-jenisnya-menurut-ahli.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *