Month: March 2015

Amusing Myself With Tiny Robots

Amusing Myself With Tiny Robots

Doing problem sets, again; for my upcoming exam, again. And let’s click the Google Chrome icon, again. But not about MIT essays, again (look here if don’t read yet). But it is about little-tiny-micro robots!

I’m going to build some toy projects which using this cheap microcontroller:

ATtiny85_900

Chrome landed me on this site (here), that’s about very amusing tiny robots. Can’t be patient to build such robot. ­čÖé

9029961395449862310
T´┐╝iny robot with ATTiny microcontroller

But the more impressive yet beautiful design must┬ábe this bristlebot (here). This design has even been redesigned by chinese (or taiwanese) manufacturer and put it┬áon the production line; then they called it “hexbug”, very pretty design by the way.

hexnanogrptube_newt_950x886_1
Some eye catching hexbugs
2121740103_e80cd1e26d_m
Very amusing when turned on

What is the best MIT short Essay?

What is the best MIT short Essay?

MZyaowOb_400x400I am tired doing problem set all night long for my upcoming exams. To refresh my brain, let’s click the Google Chrome icon. In this article, I would like to share my findings, and here we go.

I am reflecting why is on earth I must do all these problem sets, I am not loving it. But eventually I came up with my Quora Digest which lists interesting question about MIT, I was once dreaming to be one of student there, but now I am facing the reality: problem sets.

The question is, what is the best MIT short Essay? And the answerer leads me to this link [here]. I don’t know who wrote this essay, but let’s assume it is not a parody essay.

I’d ever read (or at least skim) over question asked by MIT, my answer to these questions are considerably low quality answer. Then I take a look at the essay┬áposted at that link. Wow. I don’t even think I would get inspiration like him.

Please read, and say wow.

Gunakan Bahasa Pemrograman Pada Tempatnya

Gunakan Bahasa Pemrograman Pada Tempatnya

Mengutip┬áperkataan┬á“buanglah sampah pada tempatnya”, kita mestinya membuang memakai bahasa pemrograman pada tempat, konteks, dan waktu yang tepat!

Saat menulis program, kita inginnya cepat dan cepat. Cepat eksekusinya, dan cepat proses developingnya. Kita juga punya kecenderungan untuk memakai bahasa tertentu–bahkan untuk keperluan apapun. Misalnya saja Mas gondrong pencinta bahasa C, mau urusan embedded system pakai C, sorting string pada file pakai C, membuat aplikasi Android pakai C (tidak percaya? Bisa lho.), membuat kernel dengan C, membuat aplikasi server dengan C. Mas gondrong sangat memuja-muja C.

Sebetulnya tak ada yang terlalu salah dengan Mas gondrong, ia mengandalkan C untuk menyelesaikan segalanya. Namun, saat kita melihat ia bekerja membuat program sorter ia kesulitan mencari library yang mantap, meskipun ia tak kesulitan saat bekerja di embedded system, dan saat bekerja di lingkungan Android dia betul-betul kesulitan.

Mas gondrong tentu tidak akan kesulitan membuat aplikasi Android dengan Java, bahasa yang memang seharusnya digunakan. Dan mungkin akan lebih mudah mensorting list dengan Lisp atau men-setup server dengan Perl misalnya.

Ada baiknya kita dengar cerita dari Google, raksasa internet. Google akhir-akhir ini banyak mem-port modul-modul yang tadinya ditulis dengan python, menjadi C. Alasannya tentu saja peningkatan performa. Lantas mengapa Google tidak langsung saja pakai C ya?

Python adalah bahasa interpreted, dalam arti Python tidak perlu dikompilasi untuk dijalankan, tujuan pemakaian Python adalah proses developing yang lebih cepat daripada C (meskipun Python juga dapat dikompilasi dengan sengaja menjadi bytecode yang akhirnya memberikan waktu eksekusi yang sama cepatnya dengan C, python memang semakin membaik), developer Google tidak ingin meng-compile source code C ribuan kali. Akan lebih baik suatu program baru dikembangkan dengan Python, dan setelah nyaris sempurna source code tersebut di-port ke bahasa lain.

Mahasiswa jurusan sains pasti kenal dengan Matlab, software komputasi yang powerful. Matlab sering dipakai untuk menghitung matriks, pemodelan, atau visualisasi data. Pada dasarnya mereka bisa saja memakai C untuk melakukan hal yang sama. Tapi yang ingin saya tekankan adalah akan lebih mudah dengan tool yang tepat.

Nah, sekarang kita beralih ke web programming. Jika ingin membuat halaman web dinamis berisi konten yang sangat cepat diupdate, HTML adalah pilihan yang jelek, kita punya PHP untuk halaman yang lebih fleksibel dan dinamis.

Saya ingin menekankan bahasa yang tepat untuk pekerjaan tertentu, ini mungkin akan membuat kita belajar bahasa-bahasa baru. Bisa saja Anda tidak sepakat sepenuhnya dengan tulisan ini, tapi saya pibadi sih tidak masalah. ­čÖé

Sekali lagi, buanglah sampah pada tempatnya.

Migrating to Ubuntu

ubuntu-logo14It has been over a month since I migrated from Windows. It was actually happened by accident! My laptop was used to dual-booted with Windows 7 and Ubuntu 13.04. When I was logging in to Ubuntu I realized that I was unable to perform “apt-get update”, after googled for a while I found that Ubuntu 13.04 was not supported by Canonical per 2014 (I’m not sure when). The packages for my old Ubuntu had vanished from the main server. I know it was possible to configure my old ubuntu to download packages from other version, but I was too lazy to do such thing.

I decided to upgrade my old ubuntu to the newer one: Ubuntu 14.04, it is a Long Term Support (LTS) version of Ubuntu, so I just need to upgrade every 5 years instead of every 6 months. After, I found it difficult to upgrade 13.04 to 13.04; it requires me to upgrade to 13.10, then 14.04, which I didn’t want to do. It would waste my internet quota. And the final choice was: fresh install the newer ubuntu and then uninstall the old one. Sounded seamless plan at that time, but let me continue..

I didn’t fully understand how was this happened, but I think I misunderstood the installation option. After the fresh-install finished, I realized that my harddisk was so empty. Guess what, yes, I just formatted the entire disk and really “fresh-install” ubuntu 14.04. All of my files had gone. Hmm.

Okay, I didn’t need to regret everything I’ve done so far. I just keep using my ubuntu 14.04, and I gotta used to it. I even didn’t have any wishes to come back to Windows. I just wanted to be Linux Expert.

Screenshot from 2015-03-02 20:44:21
Screenshot of my lovely Ubuntu after some ‘tweaks’